7 Tren HR di Tahun 2020

March 13, 2020, 0 Komentar

Masih ingat dengan sinetron Si Doel Anak Betawi yang salah satu episodenya menceritakan di mana ia kesulitan mencari pekerjaan? Ia terlihat keluar masuk gedung di kawasan perkantoran di Jakarta. Peluh menetes di wajahnya. Berkali-kali ia ditolak oleh staf HR dengan alasan tak ada lowongan. Padahal Si Doel bergelar sarjana.

Di masa itu, mencari pekerjaan memang bukanlah perkara mudah. Selain mengandalkan iklan surat kabar untuk mencari lowongan, cara lainnya adalah dengan mengunjungi satu demi satu kantor untuk bertanya apabila ada lowongan kerja yang tersedia.

Seiring dengan perkembangan jaman, kita tak perlu lagi mencari kerja ala Si Doel. Cukup buka ponsel, download aplikasi portal lowongan kerja, isi data yang dibutuhkan, cari lowongan, kirim! Segampang itu sekarang mencari pekerjaan. Demikian pula halnya dari sisi departemen HR, kemajuan teknologi membuat proses seleksi ini semakin mudah.

Kecanggihan teknologi membuat staf HR semakin mudah melakukan pekerjaannya. Di tahun 2020 ini, kian banyak bermunculan teknologi baru yang menjadi tren dan mulai diadaptasi oleh mereka yang bekerja di bidang ini. Berikut ini beberapa di antaranya:

AI sebagai partner

Beberapa tahun terakhir, muncul ketakutan bahwa robot atau artificial intelligence (AI) akan menggantikan tenaga manusia dan menjadikan banyak tenaga kerja berujung menganggur. Namun di tahun 2020 ini, ketakutan ini mulai berbalik arah. Makin banyak staf HR yang mengadopsi AI untuk mengotomatiskan proses rekrutmen.

Salah satu aplikasi yang mulai mengadopsi perkembangan ini adalah myrobin.id dengan fitur online chatnya. Fitur ini membuat staf HR tak perlu lagi saling berkirim email untuk berkomunikasi. Cukup gunakan fitur chat yang ada di dalam aplikasi, maka staf bisa mengukur keseriusan pelamar kerja sebelum masuk ke fase face to face meeting.

Wawasan data akan terus berkembang

Di bagian keuangan atau marketing, penggunaan data untuk pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kemajuan perusahaan mungkin sudah lumrah. Namun, tak demikian halnya dengan bagian HR. Masih cukup banyak pertimbangan yang diambil pada saat merekrut karyawan didasarkan pada pertimbangan personal masing-masing.

Di tahun 2020, dengan makin banyaknya dukungan teknologi, pengambilan keputusan berdasarkan data akan semakin sering digunakan oleh staf HR. Seperti misalnya di saat mencari tahu kenapa retensi karyawan di perusahaan rendah. Dengan mengukur rata-rata waktu karyawan di perusahaan dari onboarding sampai berhenti, bisa ditarik kesimpulan apa penyebab retensi yang rendah tersebut.

Peran kultur yang melekat di nama perusahaan

Tak hanya pelanggan, namun para pencari kerja pun mulai melihat seperti apa baik atau tidaknya perusahaan dari review yang beredar di dunia maya. Jika ada karyawan atau mantan karyawan perusahaan tersebut yang memberikan review negatif, bukan tak mungkin karyawan yang diundang untuk datang interview tak kunjung muncul batang hidungnya.

Bukan hanya staf HR, para pencari kerja pun semakin selektif saat memilih tempat ia bekerja. Jika kultur perusahaan yang tercermin dari review-review yang beredar di internet lebih cenderung ke sisi positif, jangan heran jika Anda kebanjiran email yang berisi surat lamaran dan CV. Maka dari itu, perusahaan harus mulai melihat pentingnya membangun kultur positif di dalam dan luar perusahaan.

Bekerja dari rumah jadi lumrah

Teknologi yang berkembang di tahun 2020 sudah memungkinkan seorang karyawan tak harus lagi datang ke kantor untuk bekerja. Semakin banyak perusahaan yang mulai mengizinkan karyawannya untuk bekerja dari rumah, selama tak ada penurunan kinerja dari karyawan tersebut. Di Jakarta saja, sudah ada beberapa perusahaan yang tak mewajibkan karyawannya untuk absen di kantor. Yang penting semua pekerjaan selesai tepat pada waktunya.

Umumnya, perusahaan yang mengadopsi kultur semacam ini adalah perusahaan IT yang mana karyawannya bisa bekerja di mana saja, yang penting ia terhubung dengan internet. Sebagai staf HR, Anda harus mulai mempertimbangkan adaptasi semacam ini, khususnya untuk karyawan yang bisa bekerja hanya dengan bermodalkan laptop dan koneksi internet.

Jumlah karyawan wanita dan minoritas semakin meningkat

Isu kesetaraan gender adala topik hangat yang banyak diperbincangkan belakangan ini. Semakin banyak perempuan dan kaum minoritas yang menuntut untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan laki-laki, utamanya dalam hal hak, kewajiban, dan fasilitas dalam bekerja. Seperti misalnya diberikan kesempatan yang sama untuk menduduki posisi manajerial atau direktur di sebuah perusahaan.

Ke depannya, kita akan melihat lebih banyak perempuan yang menduduki posisi penting di sebuah perusahaan. Dengan membuka peluang untuk kesetaraan gender, maka siapa pun bisa menunjukkan kinerja terbaiknya dan patut mendapatkan apresiasi yang sama.

Memberdayakan manajer untuk membantu karyawan

Bukan lagi jamannya di mana pihak manajer hanya berpangku tangan dan berharap karyawannya bisa menyelesaikan tugas tanpa arahan darinya sama sekali. Tahun 2020 adalah jamannya di mana seorang manajer harus mau turun langsung ke lapangan untuk memberikan arahan pada bawahannya dan memberikan semangat jika ada salah satu bawahannya yang turun kinerjanya.

Untuk itu, seorang manajer haruslah punya kemampuan komunikasi yang baik. Manajer semestinya punya kemampuan untuk mendengarkan masukan dari bawahan dan memberikan input terbaik untuk meningkatkan kinerja karyawan tersebut dan memajukan perusahaan pada akhirnya. Untuk mencapai hal ini, manajer haruslah mendapatkan pelatihan kemampuan komunikasi yang tepat.

Perlunya pelatihan dan training untuk meningkatkan kemampuan

Selain manajer, karyawan juga membutuhkan training untuk menambah pengetahuan dan memperkaya kemampuan. Dengan mengikuti berbagai training, seorang karyawan bisa meningkatkan skill-nya agar sesuai dengan standar yang ditentukan oleh perusahaan di tempat ia bekerja. Pastikan Anda stay tune di myrobin.id dan bergabung di komunitas Facebook, Instagram, dan Telegram myrobin.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X